Disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen
![]() |
| BUKU: Terbitan De Weefkunst mengulas kerajian kain tenun Doemoga. |
Buku yang berisi informasi sekilas tentang keberadaan kerajinan kain Tenun di Doemoga, diperdagangkan ke Bentenan. Juga disertai ilustrasi gambar kain tenun Bentenan diulas dua halaman oleh Door JE Jasper dan Mas Pirngadie kendati belum jelas yang mana motifnya.
Sumardi Arbani, 2 Maret 2013, periset di Environmental History
DUMOGA Raya sebagai tempat deklarasi Kerajaan Bolaang Mongondow
telah diposting dalam Blog ini (www.bolteng.com), namun kaburnya sejarah
masa lampau tentang Dumoga dikarenakan kurangnya referensi membuat
pemaparan lengkap sejarah panjang Dumoga menjadi sumir.
Kita patut berterima kasih tentunya kepada Sumardi Arbani, periset asal
Universitas Negeri Diponegoro (Undip) Semarang yang konsen di bidang
Sejarah Lingkungan (Environmental History) ini. Kendati bukan berasal
dari Bolaang Mongondow, namun Sumardi membuktikan bahwa Ilmuwan selalu
jujur mengulas sejara, membuka tabir Bolaang Mongondow dan Doemoga
tempoe doeloe melalui literatur yang diperolehnya di Negeri Raja Willem
Alexander yang bertahta usai Ratu Baetrix ibunya.
![]() |
Di kalangan Orang Mongondow Utat Sumardi menjadi familiar karena kaya
literaral yang kemudian mempublis informasi tersebut secara online.
Sumardi menguak banyak fakta melalui pustaka yang tersimpan di Belanda
dan negara lainnya, tentang keberadaan Bolaang Mongonow, tak terkecuali
Dumoga tempoe doeloe yang ternyata syarat kekayaan budaya.
Memoribilium kegagahan parah Bogani terrnyata tak cukup, Dumoga
sebagaimana dilansir Sumardi juga dikenal memiliki kerajinan berupa
kain tenun yang diperdagangkan di Desa Bentenan yang saat ini masuk di
wilayah Kecamatan Langowan, konon dulunya tempat perdagangan termashur.
Kendati Sumardi tak bisa mengklaim motif kain yang mana ditenun Dumoega, namun secara eksplisit tersirat dalam buku “De Inlanddsche Kunstnijverheidd in Nederlandsc Indie”, karangan Door JE Jasper dan Mas Pirngadie. Dari postingan Sumardi melalui Group Pustaka Bolmong di salah satu media jejaring sosial ini, menginspirasi catatan singkat ini dan semoga kiranya menambah hasana sejarah daerah hasil ruislag dengan Sangkub Kerajaan Bintauna kala itu.
Dalam buku ini menurut Sumardi berisi informasi sekilas tentang
keberadaan kerajinan kain Tenun di Doemoga, yang diperdagangkan ke
Bentenan; juga disertai ilustrasi gambar kain tenun yang diperdagangkan
di Desa Bentenan. Disebutkan bahwa Pusaka Sultan Bolaang Mongondow
disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Berdasar keterangan waktu terjadi tahun 1800, dimana pusaka Sultan
Bolaang Mongondow ini kemungkinan milik Raja Johanis Manuel Manoppo.
Karena satu tahun sebelumnya, raja ini ditangkap Belanda dan dibuang ke
Bagelen [Purworejo], Jawa Tengah. Tulisan berisi kerajinan kain tenun
Doemoga dan Bolaang Mongondow dalam buku "De Inlandsche Kunstnijverheid
in Nederlandsch Indiƫ", Number 2, 1 January 1912, menurut Sumardi hanya
terdapat ddalam dua halaman.
![]() | |||||||
| MOTIF: Salah satu ilustrasi kerajinan. |
Setidaknya bukti pustaka milik Belanda ini, menjadi literatur yang perlu
diterjemahkan dalam sosial budaya masa lampau dan kini, baik oleh
generasi muda di Doemoga maupun para pegiat sejarah lokal maupun
nasioanal. Catatan ini, belumlah sebuah informasi yang lengkap namun
diharapkan menjadi titik awal untuk melacak keberadaan dan kekayaan
Budaya Doemoga, bahkan semoga bisa dijadikan bukti bahwa Doemoga
merupakan cagar budaya yang semestinya mendapat perhatian khusus dari
pemerintah.
Doemoga semestinya segera dikarantina, sebagai sebuah situs sejarah agar tak terlanjur rusak akibat dijamah apalagi sengaja untuk dikaburkan dari sejarah kebudayaan oleh tangan-tangan manusia yang tak bertanggungjawab. Untuk mengingatkan kita lagi dalam sebuah catatan dalam Blog ini berjudul; “Petaka di Gunung Kramat Bumbungon” di posting 6 Juni 2012, merupakan mpesan miris bagi siapapun yang berdarah mongondow atau lahir, makan, minum dan dibesarkan di Bolmong.
Kita semua tentu akan lirih kala melewati jejak para Bogani yang kini
telah dijamah tangan-tangan tak bertanggungjawab, Gunung Keramat
Bumbungon yang terletak di antara Desa Siniung Satu dan Transmat kini
sangat memprihatinkan, telah dirambah untuk perkebunan masyarakat
sekitar dan nyaris gundul sampai puncak. Lalu kita semua seakan tak
berdaya bahkan boleh dikata apatis, tak peduli lagi dengan situs yang
diwariskan para pendiri Negeri para Punu dan Datu ini.
Kerusakan gunung karamat Bumbungon bukan kepalang, dan suda seharusnya mendapat perhatian khusus Pemkab Bolmong, untuk menjadikannya berdaya dan bermakna sebagai situs sejarah. Sudah saatnya warga Dumoga Raya meminta Pemerintah untuk memberikan payung hukum sebagai sebuah kawasan yang harus bebas dari perambahan dengan alas an apapun (baik pemukiman maupun perkebunan).
Langkah pertama yang harus dilakukan Pemkab Bolmong tak lain, segera
menjadikan cagar budaya sebagai situs sejara tempat dideklarasikannya
kerajaan Bolaang Mongondow. Tak hanya itu, masih banyak situs sejarah
seperti goa batu berkamar di Desa Toraut Induk, dan situs lainnya yang
butuh perhatian pemerintah. Situs ini harus segerah diselamatkan,
sehingga wajib hukumnya untuk disentuh pemerintah, bukan sekedar sebagai
kawasan wisata dan sejara, melainkan sebagai bukti bahwa kita berdab,
dan telah diwariskan budaya yang mestinya dilestarikan.(***)






0 komentar:
Posting Komentar