JKT48

Selasa, 06 Januari 2015

bukti sejarah bolaang mongondow, kec. dumoga

Disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen


BUKU: Terbitan De Weefkunst mengulas kerajian kain tenun Doemoga.

Buku yang berisi informasi sekilas tentang keberadaan kerajinan kain Tenun di Doemoga, diperdagangkan ke Bentenan. Juga disertai ilustrasi gambar kain tenun Bentenan diulas dua halaman oleh Door JE Jasper dan Mas Pirngadie kendati belum jelas yang mana motifnya.




  Sumardi Arbani, 2 Maret 2013, periset di Environmental History





DUMOGA Raya sebagai tempat deklarasi Kerajaan Bolaang Mongondow telah diposting dalam Blog ini (www.bolteng.com), namun kaburnya sejarah masa lampau tentang Dumoga dikarenakan kurangnya referensi membuat pemaparan lengkap sejarah panjang Dumoga menjadi sumir.

Kita patut berterima kasih tentunya kepada Sumardi Arbani, periset asal Universitas Negeri Diponegoro (Undip) Semarang yang konsen di bidang Sejarah Lingkungan (Environmental History) ini. Kendati bukan berasal dari Bolaang Mongondow, namun Sumardi membuktikan bahwa Ilmuwan selalu jujur mengulas sejara, membuka tabir Bolaang Mongondow dan Doemoga tempoe doeloe melalui literatur yang diperolehnya di Negeri Raja Willem Alexander yang bertahta usai Ratu Baetrix ibunya. 

2 HALAMAN:  Tentang kain tenun Dumoga-Bolmong.
Di kalangan Orang Mongondow Utat Sumardi menjadi familiar karena kaya literaral yang kemudian mempublis informasi tersebut secara online. Sumardi menguak banyak fakta melalui pustaka yang tersimpan di Belanda dan negara lainnya, tentang keberadaan Bolaang Mongonow, tak terkecuali Dumoga tempoe doeloe yang ternyata syarat kekayaan budaya. 
Memoribilium kegagahan parah Bogani terrnyata tak cukup, Dumoga sebagaimana dilansir  Sumardi juga dikenal memiliki kerajinan berupa kain tenun yang diperdagangkan di Desa Bentenan yang saat ini masuk di wilayah Kecamatan Langowan, konon dulunya tempat perdagangan termashur.

Kendati Sumardi tak bisa mengklaim motif kain yang mana ditenun Dumoega, namun secara eksplisit tersirat dalam buku “De Inlanddsche Kunstnijverheidd in Nederlandsc Indie”, karangan Door JE Jasper dan Mas Pirngadie. Dari postingan Sumardi melalui Group Pustaka Bolmong di salah satu media jejaring sosial ini, menginspirasi catatan singkat ini dan semoga kiranya menambah hasana sejarah daerah hasil ruislag dengan Sangkub Kerajaan Bintauna kala itu.

Dalam buku ini menurut Sumardi berisi informasi sekilas tentang keberadaan kerajinan kain Tenun di Doemoga, yang diperdagangkan ke Bentenan; juga disertai ilustrasi gambar kain tenun yang diperdagangkan di Desa Bentenan. Disebutkan bahwa Pusaka Sultan Bolaang Mongondow disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. 
Berdasar keterangan waktu terjadi tahun 1800, dimana pusaka Sultan Bolaang Mongondow ini kemungkinan milik Raja Johanis Manuel Manoppo. Karena satu tahun sebelumnya, raja ini ditangkap Belanda dan dibuang ke Bagelen [Purworejo], Jawa Tengah. Tulisan berisi kerajinan kain tenun Doemoga dan Bolaang Mongondow dalam buku "De Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch Indiƫ", Number 2, 1 January 1912, menurut Sumardi hanya terdapat ddalam dua halaman.
MOTIF: Salah satu ilustrasi kerajinan.






Setidaknya bukti pustaka milik Belanda ini, menjadi literatur yang perlu diterjemahkan dalam sosial budaya masa lampau dan kini, baik oleh generasi muda di Doemoga maupun para pegiat sejarah lokal maupun nasioanal. Catatan ini, belumlah sebuah informasi yang lengkap namun diharapkan menjadi titik awal untuk melacak keberadaan dan kekayaan Budaya Doemoga, bahkan semoga bisa dijadikan bukti bahwa Doemoga merupakan cagar budaya yang semestinya mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Doemoga semestinya segera dikarantina, sebagai sebuah situs sejarah agar tak terlanjur rusak akibat dijamah apalagi sengaja untuk dikaburkan dari sejarah kebudayaan oleh tangan-tangan manusia yang tak bertanggungjawab. Untuk mengingatkan kita lagi dalam sebuah catatan dalam Blog ini berjudul; “Petaka di Gunung Kramat Bumbungon” di posting 6 Juni 2012, merupakan mpesan miris bagi siapapun yang berdarah mongondow atau lahir, makan, minum dan dibesarkan di Bolmong.
Kita semua tentu akan lirih kala melewati jejak para Bogani yang kini telah dijamah tangan-tangan tak bertanggungjawab, Gunung Keramat Bumbungon yang terletak di antara Desa Siniung Satu dan Transmat kini sangat memprihatinkan, telah dirambah untuk perkebunan masyarakat sekitar dan nyaris gundul sampai puncak. Lalu kita semua seakan tak berdaya bahkan boleh dikata apatis, tak peduli lagi dengan situs yang diwariskan para pendiri Negeri para Punu dan Datu ini.

Kerusakan gunung karamat Bumbungon bukan kepalang, dan suda seharusnya mendapat perhatian khusus Pemkab Bolmong, untuk menjadikannya berdaya dan bermakna sebagai situs sejarah. Sudah saatnya warga Dumoga Raya meminta Pemerintah untuk memberikan payung hukum sebagai sebuah kawasan yang harus bebas dari perambahan dengan alas an apapun (baik pemukiman maupun perkebunan).
Langkah pertama yang harus dilakukan Pemkab Bolmong tak lain, segera menjadikan cagar budaya sebagai situs sejara tempat dideklarasikannya kerajaan Bolaang Mongondow. Tak hanya itu, masih banyak situs sejarah seperti goa batu berkamar di Desa Toraut Induk, dan situs lainnya yang butuh perhatian pemerintah. Situs ini harus segerah diselamatkan, sehingga wajib hukumnya untuk disentuh pemerintah, bukan sekedar sebagai kawasan wisata dan sejara, melainkan sebagai bukti bahwa kita berdab, dan telah diwariskan budaya yang mestinya dilestarikan.(***)

0 komentar:

Posting Komentar