Untuk itu sosialisasi terus dilakukan termasuk pasal-pasal mana saja
yang penting diketahui oleh pengendara. Inilah pasal yang penting
diketahui masyarakat luas seperti dilansir dari TMC Polda Metro Jaya.
1. Setiap Orang
Mengakibatkan
gangguan pada : fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi
isyarat lalu lintas fasilitas pejalan kaki, dan alat pengaman pengguna
jalan.
Pasal 275 ayat (1) jo pasal 28 ayat (2)
Denda : Rp 250.000
2. Setiap Pengguna Jalan
Tidak
mematui perintah yang diberikan petugas Polri sebagaimana dimaksud
dalam pasal 104 ayat ( 3 ), yaitu dalam keadaan tertentu untuk
ketertiban dan kelancaran lalu lintas wajib untuk : Berhenti, jalan
terus, mempercepat, memperlambat, dan / atau mengalihkan arus kendaraan.
Pasal 282 jo Pasal 104 ayat (3)
Denda : Rp 250.000
3. Setiap Pengemudi
a. Tidak bawa SIM
Tidak dapat menunjukkan Surat Ijin Mengemudi yang Sah
Pasal 288 ayat (2) jo Pasal 106 ayat (5) hrf b.
Denda : Rp 250.000
b. Tidak memiliki SIM
Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan,tidak memiliki Surat Izin Mengemudi
Pasal 281 jo Pasal 77 ayat (1)
Denda : Rp 1.000.000
c. STNK / STCK tidak Sah
Kendaraan Bermotor tidak dilengkapi dengan STNK atau STCK yang ditetapkan oleh Polri.
Psl 288 ayat (1) jo Psl 106 ayat (5) huruf a.
Denda : Rp 500.000
d. TNKB tidak Sah
Kendaraan Bermotor tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Polri.
Pasal 280 jo pasal 68 ayat (1)
Denda : Rp 500.000
e. Perlengkapan yang dapat membahayakan keselamatan.
Kendaraan
bermotor di jalan dipasangi perlengkapan yang dapat menganggu
keselamatan berlalu lintas antara lain ; bumper tanduk dan lampu
menyilaukan.
Pasal 279 jo Pasal 58
Denda : Rp 500.000
f. Sabuk Keselamatan
Tidak mengenakan Sabuk Keselamatan
Psl 289 jo Psl 106 Ayat (6)
Denda : Rp 250.000
g. lampu utama malam hari
Tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari dan kondisi tertentu.
Pasal 293 ayat (1)jo pasal 107 ayat (1)
Denda : Rp 250.000
h. Cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain
Melanggar aturan tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain Pasal 287 ayat (6) jo pasal 106 (4) hrf h
Denda : Rp 250.000
i. Ranmor Tanpa Rumah-rumah
Selain
sepeda motor, mengemudikan kendaraan yang tidak dilengkapi dengan rumah
rumah, tidak mengenakan sabuk keselamatan dan tidak mengenakan Helm.
Pasal 290 jo Pasal 106 (7).
Denda : Rp 250.000
j. Gerakan lalu lintas
Melanggar aturan gerakan lalu litas atau tata cara berhenti dan parkir
Pasal 287 ayat (3) jo Pasal 106 ayat (4) e
Denda : Rp 250.000
k. Kecepatan Maksimum dan minimum
Melanggar aturan Batas Kecepatan paling Tinggi atau Paling Rendah
Psl 287 ayat(5) jo Psl 106 ayat (4) hrf (g) atau psl 115 hrf (a)
Denda : Rp 500.000
l. Membelok atau berbalik arah
Tidak
memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan saat
akan membelok atau berbalik arah. Pasal 294 jo pasal 112 (1).
Denda : Rp 250.000
m. Berpindah lajur atau bergerak ke samping
Tidak memberikan isyarat saat akan berpindah lajur atau bergerak kesamping.
Pasal 295 jo pasal 112 ayat (2)
Denda : Rp 250.000
n. Melanggar Rambu atau
Marka Melanggar aturan Perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu lalu lintas atau Marka
Psl 287 ayat(1) jo psl 106(4) hrf (a) dan Psl 106 ayat(4) hrf (b)
Denda : Rp 500.000
o.Melanggar Apill ( TL )
Melanggar
aturan Perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi
isyarat Lalu Lintas. Psl 287 ayat (2) jo psl 106(4) hrf (c)
Denda : Rp 500.000
p.Mengemudi tidak Wajar
- Melakukan kegiatan lain saat mengemudi
-Dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan
Pasal 283 jo pasal 106 (1).
Denda : Rp 750.000
q.Diperlintasan Kereta Api
Mengemudikan
Kendaran bermotor pada perlintasan antara kereta api dan jalan, tidak
berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, Palang Pintu Kereta Api sudah
mulai ditutup, dan / atau ada isyarat lain.
Pasal 296 jo pasal 114 hrf (a)
Denda : Rp 750.000
r. Berhenti dalam Keadaan darurat.
Tidak
Memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya atau
isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat
dijalan.
Pasal 298 jo psl 121 ayat (1)
Denda : Rp 500.000. [wdh]
Home » All posts
Kamis, 18 Desember 2014
UUD lalu lintas
Rabu, 12 November 2014
Stratak ala Sun Tzu (saifudin hasan)
Stratak ala Sun Tzu
Senjata paling ampuh dalam sebuah perang adalah Strategi, dan
banyak jenderal ternyata mengandalkan strategi perangnya pada buku Seni
Berperang karya Sun Tzu, yang ditulis kira-kira 2500 tahun yang lampau.
Strategi Sun Tzu digunakan oleh Genghis Khan di abad ke 13 dalam
menaklukkan wilayah kekuasaannya mulai dari Mongol, China, Siberia
hingga mendekati Eropa. Napoleon di masa muda membaca dan mempelajari
buku itu dari para rahib Jesuit yang menterjemahkannya dari bahasa China
di tahun 1782. Cara berpikir dan bertindak Mao Tse Tung juga sangat
dipengaruhi strategi Sun Tzu, seperti terlihat dalam buku Merah Mao.
Hitler juga mempelajari strategi Sun Tzu, dan menggunakannya saat
merebut Polandia dalam operasi ‘Blitzkrieg’ yang berlangsung selama dua
minggu. Di tahun 1991, dalam operasi Desert Storm dan Desert Shield di
kawasan Teluk, setiap anggota Marinir Amerika memiliki dan mempelajari
buku strategi perang Sun Tzu. Strategi itu terbukti tetap relevan walau
telah melewati rentang waktu 25 abad.
Berikut adalah 36 ayat yang terdapat dalam buku seni perang ala Sun Tzu:
1. Perdaya Langit untuk melewati Samudera. Bergerak di kegelapan dan
bayang-bayang, menggunakan tempat-tempat tersembunyi, atau bersembunyi
di belakang layar hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah
pertahanan musuh anda harus bertindak di tempat terbuka menyembunyikan
maksud tersembunyi anda dengan aktiviti biasa sehari-hari.
2. Kepung Wei untuk menyelamatkan Zhao. Ketika musuh terlalu kuat
untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya.
Ketahui bahwa musuh tidak selalu kuat di semua hal. Entah dimana, pasti
ada celah di antara senjatanya, kelemahan pasti dapat diserang. Dengan
kata lain, anda dapat menyerang sesuatu yang berhubungan atau dianggap
berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara psikologis.
3. Pinjam tangan seseorang untuk membunuh. (Bunuh dengan pisau
pinjaman.) Serang dengan menggunakan kekuatan pihak lain (kerana
kekuatan yang minima atau tidak ingin menggunakan kekuatan sendiri).
Perdaya sekutu untuk menyerang musuh, sogok pegawai musuh untuk menjadi
pengkhianat, atau gunakan kekuatan musuh untuk melawan dirinya sendiri.
4. Buat musuh kelelahan sambil menghemat tenaga. Adalah sebuah
keuntungan, merencanakan waktu dan tempat pertempuran. Dengan cara ini,
anda akan tahu kapan dan di mana pertempuran akan berlangsung, sementara
musuh anda tidak. Dorong musuh anda untuk menggunakan tenaga secara
sia-sia sambil anda mengumpulkan/menghemat tenaga. Saat ia lelah dan
bingung, anda dapat menyerangnya.
5. Gunakan kesempatan saat terjadi kebakaran untuk merampok lainnya.
(Merompak sebuah rumah yang terbakar.) Saat sebuah negara mengalami
konflik internal, ketika terjangkit penyakit dan kelaparan, ketika
korupsi dan kejahatan merajalela, maka ia tidak akan bisa menghadapi
ancaman dari luar. Inilah waktunya untuk menyerang.
6. Berpura-pura menyerang dari timur dan menyeranglah dari barat.
Pada tiap pertempuran, elemen dari sebuah kejutan dapat menghasilkan
keuntungan ganda. Bahkan ketika berhadapan langsung dengan musuh,
kejutan masih dapat digunakan dengan melakukan penyerangan saat mereka
lengah. Untuk melakukannya, anda harus membuat perkiraan akan apa yang
ada dalam benak musuh melalui sebuah tipu daya.
7. Buatlah sesuatu untuk hal kosong. Anda menggunakan tipu daya yang
sama dua kali. Setelah beraksi terhadap tipuan pertama dan – biasanya-
kedua, musuh akan ragu-ragu untuk bereaksi pada tipuan yang ketiga.
Lantarannya, tipuan ketiga adalah serangan sebenarnya untuk menangkap
musuh saat pertahanannya lemah.
8. Secara rahasia pergunakan lintasan Chen Chang. (Perbaiki jalan
utama untuk mengambil jalan lain.)contoh: invasi Sekutu di Normandia dan
muslihat Pas de Calais. Serang musuh dengan dua kekuatan konvergen.
Yang pertama adalah serangan langsung, sesuatu yang sangat jelas dan
membuat musuh mempersiapkan pertahanannya. Yang kedua secara tidak
langsung, sebuah serangan yang menakutkan, musuh tidak mengira dan
membagi kekuatannya sehingga pada saat-saat terakhir mengalami
kebingungan dan kemalangan.
9. Pantau api yang terbakar sepanjang sungai. Tunda untuk memasuki
wilayah pertempuran sampai seluruh pihak yang bertikai mengalami
kelelahan akibat pertempuran yang terjadi antara mereka. Kemudian serang
dengan kekuatan penuh dan habiskan.
10. Pisau tersarung dalam senyum. Puji dan jilat musuh anda. Ketika
anda mendapat kepercayaan darinya, anda bergerak melawannya secara
rahsia.
11. Pohon kecil berkorban untuk pohon besar. (Mengorbankan perak
untuk mempertahankan emas.) Ada suatu keadaan dimana anda harus
mengorbankan tujuan jangka pendek untuk mendapatkan tujuan jangka
panjang. Ini adalah strategi kambing hitam dimana seseorang akan
dikorbankan untuk menyelamatkan yang lain.
12. Mencuri kambing sepanjang perjalanan (Ambil kesempatan untuk
mencuri kambing.) Sementara tetap berpegang pada rencana, anda harus
cukup fleksibel untuk mengambil keuntungan dari tiap kesempatan yang ada
sekecil apapun.
13. Kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya. Ketika anda
tidak mengetahui rencana lawan secara jelas, serang dan pelajari reaksi
lawan. Perilakunya akan membongkar strateginya.
14. Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan kembali jiwanya.
(Menghidupkan kembali orang mati.) Ambil sebuah lembaga, teknologi, atau
satu cara yang telah dilupakan atau tidak digunakan lagi dan gunakan
untuk kepentingan diri sendiri. Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu
dengan memberinya tujuan baru atau terjemahkan kembali, dan bawa ide-ide
lama, kebiasaan, dan tradisi ke kehidupan sehari-hari.
15. Permainkan harimau untuk meninggalkan sarangnya. Jangan pernah
menyerang secara langsung musuh yang memiliki keunggulan akibat
posisinya yang baik. Permainkan mereka untuk meninggalkan sarangnya
sehingga mereka akan terjauh dari sumber kekuatannya.
16. Pada saat menangkap, lepaslah satu orang. Mangsa yang tersudut
biasanya akan menyerang secara membabi buta. Untuk mencegah hal ini,
biarkan musuh percaya bahwa masih ada kesempatan untuk bebas. Hasrat
mereka untuk menyerang akan teredam dengan keinginan untuk melarikan
diri. Ketika pada akhirnya kebebasan yang mereka inginkan tersebut tak
terbukti, moral musuh akan jatuh dan mereka akan menyerah tanpa
perlawanan.
17. Melempar Batu Bata untuk mendapatkan Giok. Persiapkan sebuah
jebakan dan perdaya musuh anda dengan umpan. Dalam perang, umpan adalah
ilusi atas sebuah kesempatan untuk memperoleh hasil.Dalam keseharian, umpan adalah ilusi atas kekayaan, kekuasaan, dan sex.
18. Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya. Jika tentara musuh
kuat tetapi dipimpin oleh komandan yang mengandalkan uang dan ancaman,
maka ambil pemimpinnya. Jika komandan mati atau tertangkap maka sisa
pasukannya akan terpecah belah atau akan lari ke pihak anda. Akan tetapi
jika pasukan terikat atas sebuah kepercayaan terhadap pimpinannya, maka
berhati-hatilah, pasukan akan dapat melanjutkan perlawanan dengan
motivasi balas dendam.
19. Jauhkan kayu bakar dari tungku masak. (Lepaskan pegangan kayu
dari kapaknya.) Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk
menghadapinya secara langsung anda harus melemahkannya dengan
meruntuhkan dasarnya dan menyerang sumberdayanya.
20. Memancing di air keruh. Sebelum menghadapi pasukan musuh, buatlah
sebuah kekacauan untuk memperlemah persepsi dan pertimbangan mereka.
Buatlah sesuatu yang tidak biasa, aneh, dan tak terpikirkan sehingga
menimbulkan kecurigaan musuh dan mengacaukan pikirannya. Musuh yang
bingung akan lebih mudah untuk diserang.
21. Lepaskan kulit serangga. (Penampakan yang salah menipu musuh.)
Ketika anda dalam keadaan tersudut, dan anda hanya memiliki kesempatan
untuk melarikan diri dan harus menyatukan kelompok, buatlah sebuah
ilusi. Sementara perhatian musuh terfokus atas muslihat yang anda
lakukan, pindahkan pasukan anda secara rahasia di belakang muka anda
yang terlihat.
22. Tutup pintu untuk menangkap pencuri. Jika anda memiliki
kesempatan untuk menangkap seluruh musuh maka lakukanlah, sehingga
dengan demikian pertempuran akan segera berakhir. Membiarkan musuh untuk
lepas akan menanam bibit dari konflik baru. Akan tetapi jika mereka
berhasil melarikan diri, berhati-hatilah dalam melakukan pengejaran.
23. Berteman dengan negara jauh dan serang negara tetangga. Jamak
diketahui bahwa negara yang berbatasan satu sama lain menjadi musuh
sementara negara yang terpisah jauh merupakan sekutu yang baik. Ketika
anda adalah yang terkuat di sebuah wilayah, ancaman terbesar adalah dari
terkuat kedua di wilayah tersebut, bukan dari yang terkuat di wilayah
lain.
24. Cari lintasan aman untuk menjajah Kerajaan Guo. Pinjam sumberdaya
sekutu untuk menyerang musuh bersama. Sesudah musuh dikalahkan, gunakan
sumberdaya tersebut untuk menempatkan sekutu anda pada posisi pertama
–untuk diserang-.
25. Gantikan balok dengan kayu jelek. Kacaukan formasi musuh, ganggu
metod operasinya, ubah aturan-aturan yang digunakannya, buatlah satu hal
yang berlawanan dengan latihan standardnya. Dengan cara ini anda telah
meruntuhkan tiang-tiang pendukung yang diperlukan oleh musuh dalam
membangun pasukan yang efektif.
26. Lihat pada pohon marlberi dan ganggu ulatnya. Untuk
mendisiplinkan, mengawal, dan mengingatkan suatu pihak yang status atau
posisinya di luar konfrontasi langsung; gunakan analogi atau sindiran.
Tanpa langsung menyebut nama, pihak yang tertuduh tidak akan dapat
memukul balik tanpa keberpihakan yang jelas.
27. Pura-pura menjadi seekor babi untuk memakan harimau. (Bergaya
bodoh.) Sembunyi di balik topeng ketololan, mabuk, atau gila untuk
menciptakan kebingungan atas tujuan dan motivasi anda. Tipu lawan anda
ke dalam sikap meremehkan kemampuan anda sampai pada akhirnya terlalu
yakin akan diri sendiri sehingga menurunkan level pertahanannya. Pada
situasi ini anda dapat menyerangnya.
28. Jauhkan tangga ketika musuh telah sampai di atas (Seberangi
sungai dan hancurkan jembatan.) Dengan umpan dan tipu muslihat mengacah
musuh anda ke dalam daerah berbahaya. Kemudian putus jalur komunikasi
dan jalan untuk melarikan diri. Untuk menyelamatkan dirinya, dia harus
bertarung dengan kekuatan anda dan sekaligus elemen alam.
29. Hias pohon dengan bunga palsu. Menempelkan kembang sutera di atas
pohon memberikan sebuah ilusi bahwa pohon tersebut sehat. Dengan
menggunakan muslihat dan penyamaran akan membuat sesuatu yang tak
berarti tampak berharga; tak mengancam kelihatan berbahaya; bukan
apa-apa kelihatan berguna.
30. Buat tuan rumah dan tamu bertukar tempat. Kalahkan musuh dari
dalam dengan menyusup ke dalam benteng lawan di bawah muslihat
kerjasama, penyerahan diri, atau perjanjian damai. Dengan cara ini anda
akan menemukan kelemahan dan kemudian saat pasukan musuh sedang
beristirahat, serang secara langsung ke jantung pertahanannya.
31. Jebakan indah. (jebakan bujuk rayu, gunakan seorang perempuan
untuk menjebak seorang laki-laki.) Kirim musuh anda perempuan-perempuan
cantik yang akan menyebabkan perselisihan di basis pertahanannya.
Strategi ini dapat bekerja pada tiga tingkatan. Pertama, penguasa akan
terpesona oleh kecantikannya sehingga akan melalaikan tugasnya dan
tingkat kewaspadaannya akan menurun. Kedua, para laki-laki akan
menunjukkan sikap agresifnya yang akan menyulut perselisihan kecil di
antara mereka, menyebabkan lemahnya kerjasama dan jatuhnya semangat.
Ketiga, para perempuan akan termotivasi oleh rasa cemburu dan iri,
sehingga akan membuat intrik yang pada gilirannya akan semakin
memperburuk situasi.
32. Kosongkan benteng. (Perangkap psikologis, benteng yang kosong
akan membuat musuh berpikir bahwa benteng tersebut penuh dengan
perangkap.) Ketika musuh kuat dalam segi jumlah dan situasinya tidak
menuntungkan bagi diri anda, maka tanggalkan seluruh muslihat militer
dan bertindaklah seperti biasa. Jika musuh tidak mengetahui secara pasti
situasi anda, tindakan yang tidak biasanya ini akan meningkatkan
kewaspadaan. Dengan sebuah keberuntungan, musuh akan mengendorkan
serangan.
33. Biarkan mata-mata musuh menyebarkan konflik di wilayah
pertahanannya. (Gunakan mata-mata musuh untuk menyebarkan informasi
palsu.) Perlemah kemampuan tempur musuh anda dengan secara diam-diam
membuat konflik antara musuh dan teman, sekutu, penasihat, komandan,
prajurit, dan rakyatnya. Sementara ia sibuk untuk menyelesaikan konflik
internalnya, kemampuan tempur dan bertahannya akan melemah.
34. Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. (Masuk
pada jebakan; jadilah umpan.) Berpura-pura terluka akan mengakibatkan
dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, musuh akan bersantai sejenak oleh
karena dia tidak melihat anda sebagai sebuah ancaman serius. Yang kedua
adalah jalan untuk menjilat musuh anda dengan berpura-pura luka oleh
sebab musuh merasa aman.
35. Ikat seluruh kapal musuh secara bersamaan (Jangan pernah
bergantung pada satu strategi.) Dalam hal-hal penting, seseorang harus
menggunakan beberapa strategi yang dijalankan secara simultan. Tetap
berpegang pada rencana berbeza-beza yang dijalankan pada sebuah skema
besar; dengan cara ini, jika satu strategi gagal, anda masih memiliki
beberapa strategi untuk tetap maju.
36. Selain dari semua hal di atas, salah satu yang paling dikenal
adalah strategi ke 36: lari untuk bertempur di lain waktu. Hal ini
diabadikan dalam bentuk peribahasa Cina:“Jika seluruhnya gagal, mundur” –
Jika keadaannya jelas bahwa seluruh rencana aksi anda akan mengalami
kegagalan, mundurlah dan persatukan pasukan. Ketika pihak anda mengalami
kekalahan hanya ada tiga pilihan: menyerah, kompromi, atau melarikan
diri. Menyerah adalah kekalahan total, kompromi adalah setengah kalah,
tapi melarikan diri bukanlah sebuah kekalahan. Selama anda tidak kalah,
anda masih memiliki sebuah kesempatan untuk menang!
Selasa, 11 November 2014
Ajaran SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan Neraka Surga
AJARAN SYEH SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan, Dosa/Neraka, Pahala/Surga
PERBANDINGAN ANTARA
AJARAN SYEH SITI JENAR
Dan PANDANGAN KEJAWEN
Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia
Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan
Ajaran
Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang
utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang
Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.
Hyang
Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara
atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh
maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh
maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini
dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor,
hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya,
yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti
Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri
manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak
bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan
rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.
Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah. Pengakuan
Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang
Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai
makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu
dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh”
Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan
antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia
denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu
dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama.
Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.
Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia
Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa
merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat
Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya.
Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang
Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang
Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan
yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari
belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi
angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat
dipercaya, karena selalu berubah-ubah.
Menurut sabdalangit,
perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan
Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah
antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu,
sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan
jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi
umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).
Bagi
Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan
dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan
mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan
penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah
(terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa
kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai
wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan
dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.
Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia
Pandangan
Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya
adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan
neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan
surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan.
Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk
neraka. Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan,
sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di
dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga
manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.
Syeh
Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang
gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar
kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa
yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak
sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka
sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari
bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan
bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan
penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.
Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan sikap
dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan
dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan
sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua
bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati.
Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup
yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian
mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo).
Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia
bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah
hidup yang sejati, dan abadi.
Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya
Alasan
yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para
ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya
berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih
banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai
tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta
bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia.
Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas
beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.
Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka
Konsep
surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang
diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka
adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan
neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang
bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).
Menurut
Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir
balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak
ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain
untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi
lantaran shalat.
Santri
yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di
dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan
manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore,
malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang
banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak
ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh
dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu
dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk
menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya;
dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh
para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan
menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya
kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).
Lebih
lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai
orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan
yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran
yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak
mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah.
Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang
harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya,
tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka.
Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok
tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang,
tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang
hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang
jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga
mana neraka.
Syeh
Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos
(manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan
yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi.
Manusia terdiri atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.
Sedangkan
raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai
organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek
keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah
manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah
asalnya yaitu unsur bumi (tanah).
Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;
“Bukan
kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun
bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat
baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku
terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai
asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.
Kesimpulan
Pandangan
Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam
kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah manusia
menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal
dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag
(jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan
barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang
pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.
Terlepas
dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai
bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya
terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al
Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan
konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah
Tuhan.
Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe,
mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam
keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat,
karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh,
tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. Pada
awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan
suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta
tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam
keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan
“turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman
tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada
pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad
menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan
dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga
yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.
Betapa
Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat
tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan
secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar
supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia
diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan
cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.
Itulah
tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni
menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua
fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan
tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti
semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan
manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat
terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus
dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang
disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat.
Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat
sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah
keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam,
maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan.
Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.
Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa
dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan
Ajaran
Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala
dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan
perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula
dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha
Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen
memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan
seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi
dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik
kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan
kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri. Kebaikan akan
berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama
akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali
pada diri kita secara berlipat. Demikian juga sebaliknya, setiap
kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka mempersulit orang lain,
maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan. Kita
gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu
mendapatkan kemudahan.
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan
mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya
akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu
juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu
diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan.
Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi
kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi
mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen
pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita
masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia
memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula
misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia
menolong kita..?
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang
yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau
surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah
bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah
Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu
berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang
akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu
manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan
dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak
tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya
sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta,
tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta.
Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan
sangat sulit didapatkan.
Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran
Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau
ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan
dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik
kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan
memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya
orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau
menderita.
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.
SEJARAH SYEH SITI JENAR
SYEH SITI JENAR
Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani
Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini,
dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar
Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban,
sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau
Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.
Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari
Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan
’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah
Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan
bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin
Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid
Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid
'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin
Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far
Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin
Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi
Muhammad Rasulullah Saw.
Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak
kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan
Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia
12 tahun.
Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama
ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu
Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka
dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu.
KesultananMalaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1,
Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya
bermukim di Malaka.
Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan
Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus
pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh
Syamsuddin Ahmad.
Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah
ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid
Kahfi bin Sayyid Ahmad.
Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah
Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus
Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian
mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu
berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah
Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:
1. Maulana
Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah,
dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur,
Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan
sekitarnya
2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,
3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara
4. Sayyid
Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali
bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan,
India, Yaman.
Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi
adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya
Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah
Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan
Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu
Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.
Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan
Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung
Jati selama 2 tahun.
Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk
menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah
dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar
adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri,
Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.
KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:
1. Menganggap
bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan
dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi
yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah
sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat
jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm.
1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded,
sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun
Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu
berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab
dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….
2. “Ajaran
Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar
oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak
berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon
Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat
“Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan
Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran
tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa
Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat
Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid
Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
3. Dalam
beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat,
Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah
Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada
Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya
sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat
sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada
manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir
“Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus
puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya
melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.
4. Beberapa
penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh
Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini
suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah.
Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar
lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan
seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori
Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manusia lahir dari manusia
dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini
berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang
terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar
meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung
Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya
saat akan melaksanakan sholat shubuh.“
5. Cerita
bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak
memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang
ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film
atau sinetron. Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam
di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam
itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh
membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada
Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi
Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa
diterima akal sehat.”
Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia
(Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat
Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’
Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah
mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera
[Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
1) Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2) Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3) Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]
Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus
waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry
yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati
jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam
ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk
kejayaan Islam dan umat Islam.
IDEOPOLITOR STRATAK HMI
IDEOPOLITOR STRATAK HMI
Landasan Dasar
“ Yang takut kepada Allah adalah hamba-hamba-Nya yang berilmu pengetahuan”
(Q.S Al Faathir: 35)
“Jika
suatu hari lewat tanpa bertambahnya ilmuku yang mendekatkanku ke sisi
Allah, tidaklah ada berkah untukku dalam terbitnya matahari pada hari
itu”
(Hadits Riwayat Thabrani, Abu Na’im dan Ibnu Abdilbar)
“Orang yang buta politik maka ia akan dimakan oleh politik, orang yang buta ideology maka ia akan dimakan oleh ideology”
(Nasehat mengenai pentingnya “pengetahuan” ideology dan politik)
Pendahuluan
Diawali
dari pengetahuan manusia terhadap realitas, merupakan bukti bahwa
kecenderungan dalam mencari serta menemukan kebenaran sebagai media
dalam mencapai tujuan adalah fitrah manusia. Termasuk wilayah
pengetahuan yang akan bersama-sama kita kaji pada kesempatan kali ini;
ideologi, politik serta strategi dan taktik. Sebelum lebih jauh bahasan
yang akan kita kaji, saya akan menggaris bawahi satu pernyatan, pengetahuan
politik praktis berbeda dengan politik praktis. Yang akan kita kaji
adalah sebagai pengetahuan kita mengenai politik, bukan supaya kita tahu
serta akan mempraktekan politik praktis. Sebab HMI adalah organisasi
mahasiswa, bukan partai politik atau kelompok yang memiliki kepentingan
secara mutlak demi kekuasan.
Sebagai
media dalam mencapai tujuan, politik bukan lagi merupakan istilah yang
asing atau bahkan tabu bagi kalangan mahasiswa. Namun hal penting yang
harus difahami terkait dalam perjuangan politik adalah landasan gerak
(epistemology, pandangan dunia dan ideologi), manusianya (kader), serta
strategi dan taktik. Beberapa hal penting itulah yang akan kita bahas
pada kesempatan kali ini, sebagai pengetahuan, belum untuk dipraktekan,
terlebih semata-mata demi kekuasaan.
Saya
fikir kita semua pernah mendengar dan menyaksikan bagaimana setiap
individu maupun kelompok berusaha mencapai tujuan serta cita-cita
politiknya melalui perjuangan politik. Namun tidak sedikit kita temui
beberapa kecelakaan yang terjadi di dalamnya, baik dalam proses
perjuangan politik itu sendiri maupun hasil-hasil yang dicapai dari
perjuangan politik tersebut. Tentu saja terdapat beberapa alasan
mendasar mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pertanyannya adalah, apa
sajakah alasan mendasar itu? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat kita
jawab secara langsung, sebab jawaban tersebut sebenarnya terdapat di
dalamnya. Bagaimana jika saya katakan bahwa alasan mendasar tersebut
tidak lain adalah syarat ideal dari perjuangan politik itu sendiri?
Bahwa perjuangan politik setidaknya memiliki beberapa kandungan
signifikan yang menjadi landasan bagi “gerakan” yang akan dilakukan,
yaitu;
1. Iman atau keyakinan yang teguh[1]
2. Ilmu yang cukup[2]
3. Ideologi yang jelas
4. Organisasi yang baik, rapi dan disiplin
5. Strategi dan taktik yang tepat, serta
6. Kemampuan teknis dan teknologis yang memadai.
beberapa
hal tersebut di atas yang akan bersama-sama kita fahami. Mengingat
pentingnya bekal bagi seorang kader HMI dalam melaksanakan perjuangan
politiknya kelak. Sebab proses dalam perkaderan serta perjuangan untuk
mewujudkan cita-cita profetik belumlah cukup hanya dilakukan dalam ruang
sempit HMI. Suatu saat nanti seorang kader HMI akan mengabdikan dirinya
setelah kepurnaan dia di HMI.
Pokok Kajian
A. Ideologi
Ideologi
adalah landasan gerak, dalam arti yang lebih luas ideologi dapat
dikatakan sebagai seperangkat nilai-nilai berdasarkan pandangan dunia
(pandangan hidup) untuk mengatur kehidupan Negara dalam segi-seginya dan
yang disusun dalam sebuah konstitusi berikut peraturan-peraturan dan
implementasinya.[3]
Pada
wilayah ideology, Tauhid jelas haruslah menjadi dasar utamanya
(sumber). Bagaimana pemahaman kader maupun manusia secara umum tentang
Tauhid menjadi dasar dari epistemologinya. Sehingga dengan pengetahuan
yang bersumber dari Tauhid tersebut akan dapat menghasilkan pandangan
dunia yang objektiv. Selanjutnya pandangan dunia atau cara memahami
realitas tersebut yang nantinya sebagai perangkat ideology. Jika lebih
disederhanakan lagi, ideologi sangatlah penting dalam perjuangan
politik, sebab ideology sebagai landasan setiap gerak yang akan
diaktualisasikan.
Saat
ini kita tahu bahwa terdapat banyak sekali ideology raksasa yang dengan
segala varianya juga memiliki orientasi dalam pencapaian tujuan
(liberalism, kapitalisme, sosialisme dll). Maka sebagai landasan gerak
yang universal dan baku Tauhid adalah rujukan atau sumber utama ideologi
yang jelas, permanent dan selalu relevan.[4]
B. Politik
Politik
secara sederhana dapat kita artikan sebagai suatu media untuk mencapai
maksud atau tujuan. Politik merupakan pengetahuan terapan, di mana
dengan pengetahuan politik maksud serta tujuan yang akan dicapai dapat
diperjuangkan melalui perjuangan politik dengan menggunakan ilmu
pengetahuan politik. Tentu saja di dalam politik tersebut masih
membutuhkan banyak pengetahuan terapan yang lain, yaitu strategi dan
taktik.
Di
dalam Islam, system politik terdiri atas tiga prinsip pokok, Tauhid,
Risalah dan Khilafah. Prinsip yang pertama termanifestasikan dalam
pembahasan kita yang pertama mengenai ideology. Begitu juga dengan
prinsip yang ke dua, selain termanifestasikan dalam ideology juga
termanifestasikan melalui aturan-aturan serta tuntunan-tuntunan yang
membatasi kekuasan seorang khilafah. Sedangkan sebagai khilafah,
setidaknya manusia memiliki beberapa syarat sebagai berikut:
1. Pemilik dari bumi sepenuhnya adalah tetap Tuhan, bukan wakil-Nya yang bertugas mengelola.
2.
Pengelola itu akan mengelola milik Tuhan sesuai dengan
instruksi-instruksinya (pemahaman kita terhadap tauhid yang
termanifestasikan sebagai ideologi).
3. Pengelola milik Tuhan akan akan melaksanakan kekuasannya dalam batas-batas yang telah ditetapkan Tuhan atas dirinya.
4.
Dalam mengelola itu, ia akan melaksanakan melaksanakan kehendak Tuhan,
bukan kehendaknya sendiri (kemerdekaan individu, keharusan universal dan
tetap bertitik tolak dari Tauhid).[5]
Secara
singkat politik adalah untuk kekuasaan, sebab hanya dengan kekuasanlah
tujuan dapat terwujud. Namun dengan kekuasan yang telah didapatkan
nantinya, kekuasan tersebut tetap harus dijalankan berdasarkan atas
ideology yang sudah dipilihnya. Dalam kaitanya dengan ini, politik tidak
terlepas dari 4 hal; order(susunan/pembagian, perintah), virtue (kebajikan), freedom (kebebasan atau kemerdekaan) dan happiness/welfare (kebahagiaan dan kesejahteraan).[6]Kekuasaan
yang diperoleh melalui politik haruslah dapat mewujudkan empat hal
tersebut di atas, jika tidak maka kekuasaan yang ada bertentangan dengan
fithrah dan tujuan kekuasaan yang murni, tentu saja jalan yang dilalui
oleh perjuangan politik adalah tidak benar, sebab akibatnya pun tak
selaras dengan tujuan idealnya.
C. Strategi dan Taktik
“Ilmu
tanpa amal adalah dosa, demikian pula amal tanpa ilmu.” Pernyatan
tersebut adalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, jika kita
kaitkan dengan perjuangan politik, maka politik adalah merupakan sebuah
amal, jika tidak disertai dengan ilmu maka akan sia-sia. Dalam sebuah
perjuangan politik, strategi dan taktik adalah ilmunya, selain landasan
tauhid sebagai dasar ideology dan juga pengetahuan mengenai ilmu politik
itu sendiri.
Strategi
adalah memanfaatkan pertempuran untuk mengakhiri peperangan, taktik
adalah penggunaan kekuatan untuk memenangkan suatu pertempuran.[7]Sedangkan
menurut Mao Tse Tung strategi adalah untuk menguasai suatu peperangan
secara keseluruhan, sedangkan taktik adalah untuk melakukan kampanye
(yang merupakan bagian dari peperangan).[8] Namun
yang perlu juga kita garis bawahi di sini adalah strategi dan taktik
dalam politik tidak dapat meliputi sampai tercapainya tujuan, sebab
strategi hanya meliputi jangka waktu tertentu. Dalam pandangan HMI,
seperti yang diungkapkan oleh Dahlan Ranuwiharjo[9] mewakili
pendidik politik di HMI, strategi adalah Bagaimana menggunakan
peristiwa-peristiwa politik dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai
rencana perjuangan, sedangkan taktik adalah bagaiman menentukan sikap
atau menggunakan kekuatan dalam menghadapi peristiwa politik tertentu
pada saat tertentu.[10]
1. Hubungan Taktik dengan Strategi
Taktik merupakan bagian dari strategi. Maka dalam hal ini, taktik harus tunduk kepada strategi yang ada.
a. Jika semua taktik berhasil maka strateginya berhasil.
b. Jika Semua taktik gagal maka strateginya gagal.
c.
Jika salah satu taktik gagal, maka strategi masih bias berhasil dengan
syarat taktik yang lainnya berhasil, dan bersifat strategis.
d. Jika Sebagian taktik berhasil namun sebagian taktik strategis yang lain gagal, maka stratei ggal.
Taktik
strategis adalah taktik mengenai suatu kejadian politik, namun kejadian
itu menentukan bagi seluruh rencana strategis, dengan kata lain taktik
ini adalah taktik utama/prioritas.
Stratak
hanya boleh dipelajari oleh pejuang tulen yang telah memiliki kesadaran
nideologi dan organisasi serta sanggup berfikir politis realistis.
Seorang yang penakut, menghindari resiko dan lebih mengedepankan
kepentingan pribadi dari pada kepentingan perjuangan tidak usah
mempelajari strata, akan sia-sia, kasihan strataknya. Sebaliknya, orang
yang yang berkesadaran ideology serta organisasi haruslah mempelajari
strategi dan taktik, sehingga dia tidak akan sembrono dalam bergerak,
tidak anarkhis, tidak nyelonong saja serta tidak bertindak radikal
ekstrem yang ngawur dan nekad.[11]
2. Stratak dan Organisasi
Stratak
adalah cara menggunakan oranisasi organisasi untuk mencapai sasaran
perjuangan. Garis dari setiap strata harus disesuaikan dengan kondisi
organisasi, kesuksesan strata akan semakin memperkuat organisasi, begitu
juga sebaliknya. Semakin berkurang kekuatan organisasi, semakin tidak
mampu organisasi itu melaksankan stratak yang besar, semakin kecil
stratak yang dapat dilaksanakan oleh organisasi semakin jauh organisasi
tersebut dari tujuan perjuangan politiknya. Stratak tidak mampu berdiri
sendiri, melainkan dia hanya alat pelaksana bagi tujuan ideology.
3. Tugas Stratak
Menciptakan,
memelihara, dan menambah syarat-syarat yang akan membawa kepada tujuan
(machts-vorming dan machts-aanwending)adalah tugas stratak. Dengan kata
lain, tugas stratak adalah untuk mempertahankan dan menambah
kekuatan serta posisi sendiri, di samping itu juga untuk menghancurkan
dan mengurangi kekuatan serta posisi lawan.
4. Dasar-dasar Menyusun Strategi
a.
Menetapkan sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi dalam jangka
waktu tertentu. Sasaran disesuaikan dengan kemampuan oranisasi.
b.
Jangka waktu ditentukan sebagai jangka waktu sekarang (jangka pendek)
dan jangka waktu beberapa tahun ke depan (jangka panjang).
c. Harus terdapat rencana atau strategi alternative.
d. Harus dapat menambah kekuatan serta memperkuat posisi.
e.
Harus mampu membentuk opini public (subyektifitas menjadi objektifitas,
sebab mendapatkan dukungan dan sokongan dari kesepakatan wacana
public).
5. Dasar-dasar Membentuk Taktik[12]
Dikarenakan
taktik merupakan bagian dari strategi maka dasar bagi strategi berlaku
juga untuk taktik. Namun masih terdapat beberapa dasar yang berlaku
untuk taktik,
a. Fleksibilitas, sikap dan langkah dapat berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi.
b.
Orientatif, evaluative dan estimative, perjuangan politik tidak mampu
melihat hasil atau keberhasilan yang dicapai nanti, sebab hal tersebut
belum terjadi. Namun dengan menentukan langkah, mengira-ngira
(mengorientasikan) serta mengevaluasi keadaan dan kemungkinan yang akan
terjadi, disertai dengan memperhitungkan beberapa hal maka kita akan
dapat melihat bayangan aka nada dan tidaknya kesempatan untuk berhasil.
c. Kerahasian, strategi harus dirahasiakan, biarlah lawan meraba apa langkah perjuangan yang akan kita lalui.
d. Gerak tipu/mengelabuhi.
e. Lima S; Sasaran, Sarana, Sandaran, Sistem, Saat.
f.
Perpaduan antara Kondisi Objektif dan Kondisi Objektif, kondisi
subjektif mematangkan kondisi objektif, begitu juga sebaliknya. Antara
kedua kondisi ini memiliki hubungan timbale balik yang saling
mempengaruhi.
6. Hukum-hukum Stratak
a. Kwantitas.
b. Perpaduan antara kwalitas dan kwantitas.
c. Posisi.
d. Cadangan.
e. Kawan, Sekutu dan Lawan.
f. Divide et impera.
g. Menyerang adalah pertahan yang terbaik.
h. Membenarkan segala cara, selama tidak bertentangn dengan ideology dan membawa akibat yang dapat merugikan diri sendiri.
7. Pedoman Mencapai Hasil
a. Mencegah mudhorat lebih diutamakan dari menarik manfaat.
b. Apa yang dapat diselesaikan hari ini, selesaikan, jangan menunda.
c. Tidak ada rotan, akarpun jadi.
d. Hasil dalam perjuangan terletak pada hasilnya sendiri, tidak ada satupun yang berhasil daripada keberhasilan.
D. Pejuang Paripurna
Setiap
manusia dilahirkan sebagai pemimpin di muka bumi ini, utamanya adalah
sebagai wakil Tuhan. Sebagai pemimpin dan juga wakil Tuhan seharusnya
manusia dalam menjalankan segala gerak dan langkah perjuangannya
dilandasi dari ke-Tauhid-an. Setiap pemimpin haruslah memahami, meresapi
dan menghayati enam syarat perjuangan politik yang telah disebutkan di
atas, selain juga harus mampu menanganinya.
Pejuang
paripurna haruslah selesai pada wilayah Iman dan ilmu, setidaknya
memiliki kapasitas pada dua wilayah tersebut, sehingga dalam
pengamalannya tidak lagi keliru. Keparipurnaannya didasarkan pada
bagaimana ia mampu untuk berfikir, berjuang dan bekerja secara maksimal.
Pola berfikir dan bertindak seperti itu akan semakin mendekatkan
organisasi kepada tujuan perejuangannya.
Dalam setiap perjuangan politiknya, pejuang paripurna haruslah memiliki beberapa landasan dan nilai-nilai dasar sebagai berikut;
1. Landasan dari nilai-nilai dasar,
a. Tauhid.
b. Risalah.
c. Kekhalifahan.
2. Nilai-nilai dasar,
a. Persamaan derajat manusia.
b. Musyawarah.
c. Hak-hak demokrasi.
d. Keadilan.
e. Kepentingan umum.
f. Mencegah kedholiman tas manusia.
g. Hak atas hidup
h. Hak bagi si miskin.
i. Hak antara pemimpin dan yang dipimpin.hak minoritas.
Dengan
beberapa hal tersebut di atas, maka hasil dari perjuangan polotik akan
dapat memberikan manfaat yang besar serta tidak sia-sia,[13] akan mampu menciptakan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
__________
Literatur
Al Qur’an dan Hadits
A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000
H. Munawir Sjadzali, M.A, Islam dan Tata Negara, Jakarta, UIP, 1993
Henry J. Schmandt, Filsafat Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005
Kitab Jawa Kuno; Serat Wedhatama
Kitab Jawa Kuno Serat Wotgaleh
Sun Tzu Wu, The Art of War, Singapura, 1985
[1] Penjelasan mengenai ini dapat ditemukan di dalam Al Qur’an, Hadits serta literature-literatur dalam Filsafat Islam.
[2] Penjelasan mengenai ini dapat ditemukan di dalam Al Qur’an, Hadits serta literature-literatur dalam Filsafat Islam.
[3] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm. 105
[4] Al Qur’an dan Hadits
[5] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm. 17
[6] Henry J. Schmandt, Filsafat Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005
[7] Clausevitz.
[8] Mao Tse Tung. (1963).
[9] Mantan
Ketua Umum PB HMI Periode 1951-1953, Ketua Dewan Pembimbing dan
Penasehat PB HMI tahun 1964-1966, Ketua Umum Koordinasi Nasional KAHMI
tahun 1977-1980,
[10] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm 87
[11] Nasehat dari para Pujanga Jawa intisari Kitab Jawa Kuno; Serat Wedhatamadan Serat Wotgaleh
[12] Sun Tzu Wu, The Art of War, Singapura, 1985
[13] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm 37
Langganan:
Postingan (Atom)


